Sungguh, tak ada kata yang sanggup menerjemahkan rasa gembira, senang dan bahagia campur aduk, ketika Babepanggilan penghormatan bagi Andi Sahrandidari masyarakat Boyotan, menyanggupi akan membantu rumah hunian sementara (huntara) untuk masyarakat Desa Boyotan Asli. Sebanyak 102 Kepala keluarga kehilangan tempat tinggal, mushalla rubuh, sekolah dan masjid runtuh. Kampung Boyotan Asli porak poranda.
Rusak bangunan tidak seberapa dibandingkan dengan pupusnya harapan hidup, angan lenyap seketika. “Kami kehilangan arah dan semangat hidup,” kata Jumawal, kepala dusun Boyotan Asli. Ketakutan terhadap gempa sama menakutkannya dengan masa depan. “Sampai kapan hidup seperti ini? Ini sudah lima bulan kami hidup di tenda,” tambah Jumawal..
Berbulan-bulan hidup dari bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak, adalah keterpaksaan tanpa pilihan. Bantuan makanan, minuman dan peralatan lain cukup buat bertahan hidup. Tapi tumpukan batu dan kayu bekas reruntuhan rumah, pemandangan tiap hari yang membuat frustasi. Entah kapan bisa membangun rumah. Janji pemerintah untuk memberikan bantuan rumah huntara, sampai Februari 2019 itu belum jelas realisasinya.
Sebelumnya, Posko Jenggala sudah menyelesaikan pembangunan 160 rumah huntara di Desa Boyotan Proyek. Dan cerita keterlibatan Posko Jenggala ini dimulai dari desa ini, persis sehari, tanggal 6 Agustus 2018, setelah gempa besar kedua memporakporandakan Pulau Lombok, khususnya Lombok Utara.
Berita gempa besar pertama, 29 Juli 2018 yang menghancurkan daerah Sembalun, Lombok Timur seakan membangunkan Andi Sahrandi, salah satu pendiri Posko Jenggala, bahwa ada yang membutuhkan bantuan Posko Jenggala. Semua anggota Posko Jenggala diminta untuk bersiap berangkat ke Lombok. Sejak saat itu koordinasi dan jaringan kontak Posko Jenggala diaktifkan kembali. Informasi kondisi terkini lokasi bencana terus mengalir, data lokasi dan akses serta jalur transportasi dikumpulkan. Sejalan dengan itu, identifikasi kebutuhan korban bencana di data.
Namun, untuk memperoleh informasi yang lebih akurat, dibutuhkan kontak langsung dengan orang yang berada di Lombok yang paham situasi.
Kontak pertama terhubung dengan Baiq Mandri Martiana alias Nana. Dari Nana diperoleh informasi bahwa kebutuhan terpal, kain sarung, obat-obatan dan keperluan balita, untuk jumlah besar, sudah sulit diperoleh di Mataram. Nana mengusulkan barang-barang tersebut harus dibawa dari luar Lombok. Akhirnya barang-barang tersebut bisa diperoleh di Surabaya. Selain itu untuk membantu distribusi barang, Posko Jenggala di bantu Thyas, relawan lokal. Setelah semua matang, rombongan pertama Posko Jenggala dari Jakarta, yang terdiri dari Andi Sahrandi, Bara, Sidik dan Rendy, berangkat tanggal 6 Agustus..
Tanggal 5 Agustus, gempa besar 7,2 SR kembali melanda Pulau Lombok. Kali ini Lombok Utara yang hancur. Rumah dan bangunan sepanjang jalan dari Senggigi menuju Tanjung, Lombok Utara, hampir semuanya runtuh.
Hari pertama, tim langsung survei. DIsepakati yang akan dituju adalah Lombok Utara. Rombongan akhirnya sampai ke Desa Boyotan Proyek, tengah malam. Di Boyotan Proyek, tidak ada rumah yang utuh. Semua warga kehilangan rumah. Semua tinggal di tenda. Kedatangan tim Posko Jenggala pada malam itu merupakan kunjungan pertama orang dari luar.
Di tengah malam yang gelap gulita itu dan dengan segala keterbatasan, , masyarakat Boyotan Proyek menyambut hangat kedatangan tim Posko Jenggala. Tim tidak lagi hanya mendengar cerita tapi melihat langsung kehancuran akibat gempa.
Kondisi memprihatinkan dan kehangatan warga desa itu mengetuk hati Andi Sahrandi dan anggota tim. Esok harinya, tim kembali membawa aneka bantuan bahan makanan dan kebutuhan lainnya. Malamnya lampu genset menerangi Desa Boyotan Proyek, walaupun baru sebagian. Selang beberapa hari kemudian, terpal, selimut, kain sarung dan penampung air menyusul.
Bagi Tim Posko Jenggala ini merupakan awal dari kerja besar berikutnya. Andi Sahrandi kemudian menawarkan kepada masyarakat Boyotan Proyek untuk membanguan rumah hunian sementara dari bambu. Di hadapan tokoh masyarakat Boyotan Proyek, Andi berjanji akan membangun 45 rumah dulu sebagai awal. Masyarakat tidak menyangka, antara percaya dan tidak, bahwa ada orang asing yang mau membangun rumah buat mereka.
Isu mereka akan dibangunkan rumah segera menyebar. Berbagai macam reaksi muncul. Ada yang pesimis bahwa itu hanya janji kosong belaka. Sedangkan yang lain menyambut dengan tangan terbuka. Agar terealisasi, niat tersebut, Andi mengajukan syarat, bahwa pembangunan rumah tersebut harus dilakukan secara gotong royong. Yang tidak mau gotong royong tidak dapat rumah. Syarat tersebut tidak sulit bagi masyarakat Boyotan Proyek, karena mereka sudah terbiasa berja bersama.
Karena kebutuhan rumah yang banyak, maka masyarakat kemudian diminta menentukan sendiri kriteria penerima rumah tahap awal ini. Hasil musyawarah desa kemudian menetapkan bahwa yang pertama mendapatkan rumah adalah para orang tua, lalu ibu tanpa suami, setelah itu penerima rumah dibagi berdasarkan kelompok keluarga.
Setelah pembagian selesai, mereka kembali ragu apakah benar janji Posko Jenggala itu. Andi Sahrandi bersama tim bergerak cepat, mulai menginventarisir sumber bambu, lokasi dan harga. Sementara untuk kebutuhan material lain didatangkan dari Mataram. Begitu material rumah berdatangan, keraguan warga pun sirna. Masyarakat spontan bergerak, membagi material sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Untuk membantu pembangunan rumah bambu tersebut, Posko Jenggala mendatangkan Jaya, Dadi dan Sidik. Jaya yang kemudian mengajarkan kepada masyarakat bagaimana membangun rumah dari bambu, berapa jumlah material yang dibutuhkan.
Untuk membiayai huntara, Posko Jenggala menggandeng Energi Mega Persada (EMP). Posko Jenggala dan EMP menyediakan semua kebutuhan material dan konsumsi, sementara tenaga kerjanya adalah masyarakat sendiri. Buat Posko Jenggala pembangunan rumah dari bambu ini bukan kali pertama. Beberapa tempat yang pernah dibantu oleh Posko Jenggala menggunakan bahan yang sama. Pilihan atas bahan ini karena bambu merupakan tanaman yang tumbuh di seluruh Indonesia, artinya mudah didapat. Bambu juga ramah lingkungan. Tanaman ini cepat tumbuh. Bahan bambu pengerjaannya mudah dan cepat. Bambu lebih ramah terhadap gempa, artinya, rumah dari bambu lebih tahan terhadap gempa, jadi sangat cocok untuk daerah yang rawan gempa.
Di tengah jalan, mereka yang belum mendapatkan rumah mulai minta dibuatkan juga. Posko Jenggala awalnya menyanggupi menambah 15 rumah lagi, artinya seluruhnya ada 60 rumah.
Warga Desa Boyotan Proyek sudah tidur di rumah huntara yang dikenal dengan “rumah babe”. Hal itu pula yang menumbuhkan keinginan masyarakat Boyotan Asli minta bantuan Posko Jenggala. Maka diutuslah kepala dusun untuk bertemu Andi Sahrandi. .
Singkat cerita, babe setuju untuk membantu masyarakat Boyotan Asli membangun rumah huntara. Posko Jenggala menyanggupi 102 rumah, sesuai dengan permintaan kepala dusun. Namun babe mengajukan beberapa syarat kepada masyarakat. Selain dilakukan secara gotong royong, prioritas utama pembangunan rumah adalah mereka yang sudah tua atau jompo, kemudian ibu-ibu yang tidak punya suami atau janda. Karena dalam pengerjaannya Posko Jenggala mengajak Prudential Foundation bekerjasama, maka kepala dusun harus membuat surat permohonan atau permintaan huntara kepada Prudential Foundation. Masyarakat setuju dengan syarat itu.
Sejak saat itu persiapan mulai dilakukan. Lokasi tempat huntara difoto bersama dengan pemiliknya, lahan disiapkan dan dibersihkan. Di tengah persiapan tersebut, terjadi perubahan. Program huntara pemerintah mulai berjalan dan beberapa masyarakat mulai tergoda dan beralih memilih program huntara pemerintah.
Keterbatasan lahan membuat masayrakat harus memilih salah satu dari program bantuan tersebut. 40 mengundurkan diri. Kekurangan tersebut kemudian ditawarkan ke dusun lain , tentu saja atas persetujuan Posko Jenggala. Dusun Nangka Lombok memperoleh 20 rumah, 16 rumah di Boyotan Baru dan Boyotan baru mendapat tambahan 4 rumah, tapi kemudian ada permintaan penambahan 1 rumah lagi, sehingga Boyotan Proyek mendapat 5. Jadi total yang akan dibangun 103 rumah.
Dari Tiada Jadi Berjaya
Untuk realisasi syarat yang diajukan Posko Jenggala dibutuhkan komitmen dan keteguhan bersama masyarakat Dusun Boyotan Asli, Boyotan Baru, Nangka Lombok dan Boyotan Proyek. Mekanisme penyusunan rencana kerja, lokasi, tenaga kerja dan pengadaan material harus sejalan, agar pengerjaan huntara sesuai dengan rencana. Pembangunannya dikerjakan secara berkelompok.
Di tengah proses tersebut, pihak Prudensial kemudian meminta ruang bagi volunteer untuk berpartisipasi. Prudential mengirim 53 volunteer dari berbagai negara dan diterjunkan ke kelompok kerja di Boyotan Asli. Kehadiran volunteer menambah semangat dan antusias warga. Para volunteer pun juga bekerja dengan senang hati. Hanya lima hari mereka terlibat disitu, namun kesan yang ditinggalkan sangat mendalam bagi masyarakat.
Mereka memaku, memasang bedeg (dinding bambu) bersama-sama. Buat masyarakat Boyotan Asli, ini kali pertama mereka didatangi dan bekerja dengan orang dari berbagai negara. Bagi para volunteer sendiri, ini pengalaman yang jarang didapat, membangun dan membantu secara langsung masyarakat yang tertimpa bencana.
Menjelang selesainya huntara muncul ide baru, yaitu membangun mushalla yang runtuh. Mushalla yang ada masih darurat, belum ada kamar mandi dan tempat wudhu. Proses pengerjaan mushalla juga dilakukan dengan gotong royong.
Belum selesai mushalla dibangun, permintaan membangun huntara kembali datang. Kali ini dari Dusun Pawang Baturan. Dusun ini tetangga Boyotan Proyek. Lamanya menunggu proses bantuan rumah dan rumitnya birokrasi pemerintah membuat mereka tidak ada pilihan lain. Kepala dusun, mewakili warga, datang ke Boyotan Proyek untuk mencari akses ke Posko Jenggala agar dibantu mendirikan huntara.
Sebenarnya sudah lama mereka menginginkan bantuan tersebut, namun dikarenakan koordinasi dan kondisi pada waktu itu, akhirnya permintaan itu tertunda. Saat pengajuan bantuan tersebut, sudah ada beberapa dusun juga sebelumnya yang meminta hal yang sama, tapi karena keterbatasan dana, pilihan akhirnya jatuh pada Dusun Pawang Baturan. Setelah proses musyawarah warga setempat, disepakati dibangun 34 rumah huntara.
Berbeda dengan dusun lain di Gumantar, yang hampir semuanya beragama Islam, penduduk dusun Pawang Baturan menganut agama Hindu. Menurut ceritanya, nenek moyang mereka berasal dari Pulai Nusa Penida, Bali. Penduduk Pawang Baturan, sekitar 100 KK, merupakan pecahan dari Dusun Boyotan Proyek.
Seiring berjalannya waktu kebutuhan akan rumah hunian tidak bisa lagi ditunda, Sudah berbulan-bulan lamanya mereka tinggal di tenda. Setelah mendengar dari penduduk Boyotan Proyek dan melihat sendiri bantuan huntara akhirnya diputuskan untuk meminta bantuan rumah huntara ke Posko Jenggala.
Huntara bantuan Posko Jenggala dan Prudential Foundation, bagaikan mukjizat bagi masyarakat Boyotan Asli, Nangka Lombok, Boyotan Baru dan Boyotan Proyek. Berbulan bulan lamanya, hidup dalam kehampaan dan tujuan akibat ketakutan dan ketidakberdayaan melihat kenyataan. Bila turun hujan basah kuyup, siang hari kepanasan dan bila malam datang kedinginan menyergap.
Doa dan usaha untuk bangkit akhirnya terjawab. Kehadiran Poko Jenggala dan Prudential Foundation telah membangkitkan kembali rasa percaya diri dan harapan akan masa depan.
Rumah huntara tersebut tidak hanya sekedar rumah, tapi merupakan wujud dari ketabahan, kerja keras dan keteguhan hati. Rumah tersebut juga menunjukkan bahwa mereka tidak ditinggal sendiri. Masih banyak orang-orang diluar sana yang peduli dan rela berkorban buat sesama. Pembangunan rumah huntara telah membangkitkan kembali jiwa gotong royong, kepedulian dan kebersamaan.
Foto lapangan dari kegiatan ini — Palu, Sigi, Sulawesi Tengah, Maret 2019.